Berita Terkini

Wana Wisata Grape

Madiun, Investigasi : Tempat wisata alam yang ada di Kabupaten Madiun salah satunya adalah Wana Wisata Grape. Tempat wisata alam ini berada di kaki Gunung Wilis yaitu 15 kilometer sebelah Timur Kota Madiun.
Sekilas tentang Wana Wisata Grape ini merupakan tempat wisata hutan di Kabupaten Madiun yang berada ditepian hutan jati yang merupakan wilayah KPH Madiun dengan luas area sekitar 1,5 hektar.
Wana Wisata Grape merupakan tempat rekreasi dengan suasana yang asri dan sejuk karena disampingnya mengalir aliran sungai yang jernih sehingga menggoda pengunjung untuk mandi atau sekedar bermain air.
Setelah puas menikmati pemandangan alam yang indah, para pengunjung bisa menikmati makanan khas dari Wwana Wisata Grape yaitu ikan Wader goreng yang mengugah selera.
Warung-warung ini berdiri disepanjang jalan dan ditepian sungai, sehingga para pengunjung bisa menikmati makanan sembari memandang kearah sungai. Dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang mempesona, tempat ini sangat cocok untuk memulihkan atau refresing dari hiruk pikuknya pekerjaan.

Disamping itu, Wana Wisata Grape bisa digunakan untuk tempat berolah raga, bersepeda, hiking maupun berkemah dan panjat tebing. Selain itu, di Wana Wisata Grape juga disediakan fasilitas aula pertemuan dan taman bermain anak-anak.
Madiun, Investigasi : Tempat wisata alam yang ada di Kabupaten Madiun salah satunya adalah Wana Wisata Grape. Tempat wisata alam ini berada di kaki Gunung Wilis yaitu 15 kilometer sebelah Timur Kota Madiun.
Sekilas tentang Wana Wisata Grape ini merupakan tempat wisata hutan di Kabupaten Madiun yang berada ditepian hutan jati yang merupakan wilayah KPH Madiun dengan luas area sekitar 1,5 hektar.
Wana Wisata Grape merupakan tempat rekreasi dengan suasana yang asri dan sejuk karena disampingnya mengalir aliran sungai yang jernih sehingga menggoda pengunjung untuk mandi atau sekedar bermain air.
Setelah puas menikmati pemandangan alam yang indah, para pengunjung bisa menikmati makanan khas dari Wwana Wisata Grape yaitu ikan Wader goreng yang mengugah selera.
Warung-warung ini berdiri disepanjang jalan dan ditepian sungai, sehingga para pengunjung bisa menikmati makanan sembari memandang kearah sungai. Dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang mempesona, tempat ini sangat cocok untuk memulihkan atau refresing dari hiruk pikuknya pekerjaan.

Disamping itu, Wana Wisata Grape bisa digunakan untuk tempat berolah raga, bersepeda, hiking maupun berkemah dan panjat tebing. Selain itu, di Wana Wisata Grape juga disediakan fasilitas aula pertemuan dan taman bermain anak-anak.
Baca

Museum Trinil

Ngawi, Investigasi : Museum Trinil, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, Indonesia. Museum Trinil atau Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Berjarak 14 km dari Kota Ngawi ke arah Barat Daya, pada km 10 jalan Raya Ngawi, Solo. Ada pertigaan belok ke arah Utara. Sepanjang 3 km perjalanan baru sampai pada museum Trinil. Letaknya sendiri di pinggiran kali Bengawan Solo, dan layaknya situs-situs kepurbakalaan yang ada di tanah air memang cenderung di pinggiran sungai. Seperti halnya situs Sangiran atau situs Sambung Macan Sragen juga di Bantaran Sungai Bengawan Solo.
 Di sebelah Barat Daya di halaman museum terdapat bangunan berupa monumen yang didirikan oleh Eugene Dubois yang pertama kali menemukan situs ini. Di monumen itu dituliskan angka tahun pertama kali penemuan fosil manusia purba yang diberi nama Pithethropus Erectus di samping manusia purba di dalam museum sendiri juga banyak ditemukan berbagai macam fosil binatang purba, yang paling terkenal adalah ditemukan gading gajah purba yang sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran gading gajah biasa. Manusia purba ini diperkirakan berada pada zaman pleistosin tengah atau satu juta tahun yang lalu.
Perlu diketahui, Trinil adalah situs Paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur kira-kira 13 km sebelum pusat kota Ngawi dari arah kota Solo Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.
Pada tahun 1891, Eugene Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa (saat itu) yaitu spesimen Manusia Jawa Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba  Pithecantrophus erectus serta berbagai fosil hewan dan tumbuhan purba.
Saat ini di Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektare, dengan koleksi di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba, dan fosil tanduk banteng purba. Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teungku Jacob, ahli Antropologiragawi dari Universitas Gajah Mada
Situs Museum Trinil dalam penelitian merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu yang terdapat di kota Ngawi. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya.
Museum Trinil terletak di Jalan Raya Solo – Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, kurang lebih 13 kilometer arah barat pusat kota Ngawi, dan untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan semua jenis kendaraan. Sayang sekali di jalan arteri yang bisa menjadi petunjuk utama, tidak ada satupun patokan yang bisa mengarahkan kita ke Museum tersebut. Kalau bertanya sama seseorang hanya dijawab, “ Pokoknya belok ke gang yang ada gapura hitamnya,”.
Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam 1 km dari jalan raya utama, kemudian kami melapor ke pos penjaga untuk membayar tiket masuk. Memang luar biasa murah kalau boleh dikatakan, bayangkan untuk melihat peradaban jutaan tahun yang lalu hanya dikenakan biaya masuk seribu rupiah per orang. Ketika masuk ke lokasi parkir, kesan pertama yang timbul adalah bahwa museum ini kurang optimal perawatannya, terutama dalam hal fasilitas dan kebersihan.
Masuk ke dalam museum akan mendapati ruangan yang dipenuhi dengan tulang-tulang manusia purba. Diantaranya adalah : fosil tengkorak manusia purba (Phitecantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil Area), fosil tulng rahang bawah macan (Felis Tigris Mandi Bula Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area).
Disamping itu masih ada beberapa fosil tengkorak : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Selain fosil-fosil tengkorak yang tersebut hal yang menarik lainnya adalah, adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Dulu tak banyak orang tahu akan makna tugu itu, bahkan kemungkinan besar bisa rusak kalau tidak dpelihara oleh seorang sukarelawan.
Wirodihardjo atau Wiro balung alias Sapari dari Kelurahan Kawu adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna yang besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar ia berpendapat begitu, karena ia telah menyaksikan ekspedisi atau penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan setelah penggalian yang dilakukan E.Dubois dan Salenka. Orang asing atau mahasiswa datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi yang tentunya dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah tersebut, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu.
Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena beliau menjadi tempat untuk bertanya para pengunjung tentang fosil di Trinil. Walaupun tempat tersebut terkenal sebagai daerah fosil, namun kenyataan waktu itu tidak satupun fosil yang ada di Trinil. Untuk itulah ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan di sungai Bengawan Solo. Selain itu Pak Wiro juga mendapat laporan dari penduduk sekitar bahwa mereka menemukan fosil. Dari hari ke hari fosil yang dikumpulkan dari tiga desa ; sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar bertambah banyak, atas tinjauan Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi waktu itu (Pak Mukiyo) ia mendapat bantuan tiga buah almari untuk menyimpan fosil-fosil tersebut. Sejak saat itulah Pak Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan balung-balung (tulang).
Dan selanjutnya pada tahun 1980/1981 Pemerintah daerah setempat mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil tersebut yang diresmikan oleh Bapak Gubernur Jatim “Soelarso” pada tanggal 20 Nopember 1991. Namun sayang Wiro Balung sudah tiada sejak 1 April 1990 dan keahlian beliau diteruskan oleh anaknya Mas Sujono ( 37 ) yang sekarang menjad juru kunci Museum Trinil. Selain dari diorama yang ada, Mas Sujono juga banyak memberikan keterangan tambahan.
Diantara tambahan keterangan Mas Sujono yang sangat penting adalah, ”Bahwasannya Trinil merupakan daerah padang savanna pada masa lampau. Kenapa ? karena adanya manusia, banteng, gajah dan hewan-hewan yang lain yang tumbuh di satu area. Hal ini cukup menunjukkan kalau dulu daerah ini adalah savanna. Namun kemudian setelah adanya letusan Gunung Lawu yang berturut-turut hancurlah peradaban yang ada di Trinil dan sekitarnya,” kata Mas Sujono dengan mimik serius. Dengan melihat Museum Trinil suatu kearifan dapat kita tarik dari berbagai temuan para ilmuwan tentang manusia purba. Adalah suatu kenyataan bahwa dibalik keanekaragaman wujud kehidupan kita dewasa ini, sesungguhnya ada kesamaan asal-usul kita seluruhnya sebagai manusia.
Ngawi, Investigasi : Museum Trinil, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, Indonesia. Museum Trinil atau Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Berjarak 14 km dari Kota Ngawi ke arah Barat Daya, pada km 10 jalan Raya Ngawi, Solo. Ada pertigaan belok ke arah Utara. Sepanjang 3 km perjalanan baru sampai pada museum Trinil. Letaknya sendiri di pinggiran kali Bengawan Solo, dan layaknya situs-situs kepurbakalaan yang ada di tanah air memang cenderung di pinggiran sungai. Seperti halnya situs Sangiran atau situs Sambung Macan Sragen juga di Bantaran Sungai Bengawan Solo.
 Di sebelah Barat Daya di halaman museum terdapat bangunan berupa monumen yang didirikan oleh Eugene Dubois yang pertama kali menemukan situs ini. Di monumen itu dituliskan angka tahun pertama kali penemuan fosil manusia purba yang diberi nama Pithethropus Erectus di samping manusia purba di dalam museum sendiri juga banyak ditemukan berbagai macam fosil binatang purba, yang paling terkenal adalah ditemukan gading gajah purba yang sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran gading gajah biasa. Manusia purba ini diperkirakan berada pada zaman pleistosin tengah atau satu juta tahun yang lalu.
Perlu diketahui, Trinil adalah situs Paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur kira-kira 13 km sebelum pusat kota Ngawi dari arah kota Solo Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.
Pada tahun 1891, Eugene Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa (saat itu) yaitu spesimen Manusia Jawa Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba  Pithecantrophus erectus serta berbagai fosil hewan dan tumbuhan purba.
Saat ini di Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektare, dengan koleksi di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba, dan fosil tanduk banteng purba. Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teungku Jacob, ahli Antropologiragawi dari Universitas Gajah Mada
Situs Museum Trinil dalam penelitian merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu yang terdapat di kota Ngawi. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya.
Museum Trinil terletak di Jalan Raya Solo – Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, kurang lebih 13 kilometer arah barat pusat kota Ngawi, dan untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan semua jenis kendaraan. Sayang sekali di jalan arteri yang bisa menjadi petunjuk utama, tidak ada satupun patokan yang bisa mengarahkan kita ke Museum tersebut. Kalau bertanya sama seseorang hanya dijawab, “ Pokoknya belok ke gang yang ada gapura hitamnya,”.
Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam 1 km dari jalan raya utama, kemudian kami melapor ke pos penjaga untuk membayar tiket masuk. Memang luar biasa murah kalau boleh dikatakan, bayangkan untuk melihat peradaban jutaan tahun yang lalu hanya dikenakan biaya masuk seribu rupiah per orang. Ketika masuk ke lokasi parkir, kesan pertama yang timbul adalah bahwa museum ini kurang optimal perawatannya, terutama dalam hal fasilitas dan kebersihan.
Masuk ke dalam museum akan mendapati ruangan yang dipenuhi dengan tulang-tulang manusia purba. Diantaranya adalah : fosil tengkorak manusia purba (Phitecantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil Area), fosil tulng rahang bawah macan (Felis Tigris Mandi Bula Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area).
Disamping itu masih ada beberapa fosil tengkorak : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Selain fosil-fosil tengkorak yang tersebut hal yang menarik lainnya adalah, adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Dulu tak banyak orang tahu akan makna tugu itu, bahkan kemungkinan besar bisa rusak kalau tidak dpelihara oleh seorang sukarelawan.
Wirodihardjo atau Wiro balung alias Sapari dari Kelurahan Kawu adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna yang besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar ia berpendapat begitu, karena ia telah menyaksikan ekspedisi atau penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan setelah penggalian yang dilakukan E.Dubois dan Salenka. Orang asing atau mahasiswa datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi yang tentunya dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah tersebut, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu.
Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena beliau menjadi tempat untuk bertanya para pengunjung tentang fosil di Trinil. Walaupun tempat tersebut terkenal sebagai daerah fosil, namun kenyataan waktu itu tidak satupun fosil yang ada di Trinil. Untuk itulah ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan di sungai Bengawan Solo. Selain itu Pak Wiro juga mendapat laporan dari penduduk sekitar bahwa mereka menemukan fosil. Dari hari ke hari fosil yang dikumpulkan dari tiga desa ; sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar bertambah banyak, atas tinjauan Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi waktu itu (Pak Mukiyo) ia mendapat bantuan tiga buah almari untuk menyimpan fosil-fosil tersebut. Sejak saat itulah Pak Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan balung-balung (tulang).
Dan selanjutnya pada tahun 1980/1981 Pemerintah daerah setempat mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil tersebut yang diresmikan oleh Bapak Gubernur Jatim “Soelarso” pada tanggal 20 Nopember 1991. Namun sayang Wiro Balung sudah tiada sejak 1 April 1990 dan keahlian beliau diteruskan oleh anaknya Mas Sujono ( 37 ) yang sekarang menjad juru kunci Museum Trinil. Selain dari diorama yang ada, Mas Sujono juga banyak memberikan keterangan tambahan.
Diantara tambahan keterangan Mas Sujono yang sangat penting adalah, ”Bahwasannya Trinil merupakan daerah padang savanna pada masa lampau. Kenapa ? karena adanya manusia, banteng, gajah dan hewan-hewan yang lain yang tumbuh di satu area. Hal ini cukup menunjukkan kalau dulu daerah ini adalah savanna. Namun kemudian setelah adanya letusan Gunung Lawu yang berturut-turut hancurlah peradaban yang ada di Trinil dan sekitarnya,” kata Mas Sujono dengan mimik serius. Dengan melihat Museum Trinil suatu kearifan dapat kita tarik dari berbagai temuan para ilmuwan tentang manusia purba. Adalah suatu kenyataan bahwa dibalik keanekaragaman wujud kehidupan kita dewasa ini, sesungguhnya ada kesamaan asal-usul kita seluruhnya sebagai manusia.
Baca

Pencak Silat Kabupaten Madiun Jadi Ikon Pariwisata

Madiun, Investigasi : Kab. Madiun mempunyai potensi pencak silat yang luar biasa. Potensi pencak silat ini harus dapat kita kembangkan menjadi salah satu ikon pariwisata yang laku jual. Disini harus kreatif mengolah agar seni beladiri bisa berkembang menjadi sebuah seni tradisi yang mampu membawa nama baik Kab. Madiun.
Selain untuk ikon pariwisata, Pencak Silat juga bias untuk memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan di intern maupun ekstern perguruan pencak silat yang ada di Kab. Madiun, oleh sebab itu, Minggu, 28 Februari 2016 bertempat di Taman Wisata Umbul Square Dolopo Kabupaten Madiun, digelar pentas pencak seni tradisional.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Madiun Drs. H. Iswanto, M.Si dengan disaksikan oleh Wakil Ketua DPRD, anggota Forpimda, Sekda, Ketua dan pengurus IPSI Kab. Madiun, Pimpinan Perguruan Pencak Silat, Ketua dan anggota Satgas  Sentot Prawiro Dirjo, serta keluarga besar perguruan pencak silat se Kab. Madiun.
 Dijelaskan oleh Wakil Bupati Madiun, H. Iswanto sebagaimana diketahui bersama, bahwa Kab. Madiun merupakan pusat dari berbagai perguruan pencak silat di tanah air, untuk sudah sepantasnya apabila dari madiun dikenal sebagai kampong pesilat, sehingga Kab. Madiun ini juga berfungsi sebagai pusat penetasan atau kawah condrodimuko bagi para atlit pencak silat atau pendekar tingkat nasional bahkan internasional.
Lebih lanjut dikatakan, Wabup. Madiun juga mengajak seluruh insan yang berkecimpung di dunia pencak silat sepakat untuk memperkokoh sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa baik di intern maupun antar anggota pencak silat, ikut berkompetisi untuk meraih prestasi di bidang pencak silat melalui bina laga atau gelar pencak silat melalui bina laga atau gelar pencak silat, Terus meningkatkan kualitas SDM para anggota perguruan pencak sialat, baik melalui hard skil (kemampuan fisik), dalam pencak silat, kemampuan fisik adalah mampu untuk memainkan jurus-jurus dengan baik, serta peningkatan SDM melalui softskills (kemampuan intelektual, penguasaan emosi diri, motivasi yang tinggi untuk raih prestasi, semangat untuk cipta rasa aman dan nyaman bagi masyarakat serta dapat bekerjsama dengan timnya secara baik) serta menyadari bahwa dalam upaya peningkatan dan pengembangan kualitas SDM para anggota perguruan pencak silat dimaksut dalam upaya turut serta secara bersama-sama.
Wabup. Madiun juga berharap agar semua pengurus dan anggota perguruan pencak silat di Kab. Madiun dapat mempertajam kepekaan empati untuk olah fikir, olah rasa dan fisik, sehingga dapat mendukung “Terwujudnya Kabupaten Madiun Lebih sejahtera Tahun 2018”. Wujudkan persatuan dan kesatuan di intern dan antar perguruan pencak silat, Cetak bibit atlit berbakat yang dapat berprestasi di kancah Nasional dan Internasional, optimalkan keberadaan IPSI. Dan kepada  dinas terkait diharapkan mampu mengelola asset yang telah ada dengan berkoordinasi dengan pengurus perguruan silat yang ada.

Menandai dimulainya Gelar Pencak Silat Seni Tradisi di Taman Wisata Umbul Squaer diadakan pertunjukan Seni Barongsai dan Petas Atlit Pencak Silat dari Perguruan Silat Kera Sakti. (p-76)
Madiun, Investigasi : Kab. Madiun mempunyai potensi pencak silat yang luar biasa. Potensi pencak silat ini harus dapat kita kembangkan menjadi salah satu ikon pariwisata yang laku jual. Disini harus kreatif mengolah agar seni beladiri bisa berkembang menjadi sebuah seni tradisi yang mampu membawa nama baik Kab. Madiun.
Selain untuk ikon pariwisata, Pencak Silat juga bias untuk memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan di intern maupun ekstern perguruan pencak silat yang ada di Kab. Madiun, oleh sebab itu, Minggu, 28 Februari 2016 bertempat di Taman Wisata Umbul Square Dolopo Kabupaten Madiun, digelar pentas pencak seni tradisional.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Madiun Drs. H. Iswanto, M.Si dengan disaksikan oleh Wakil Ketua DPRD, anggota Forpimda, Sekda, Ketua dan pengurus IPSI Kab. Madiun, Pimpinan Perguruan Pencak Silat, Ketua dan anggota Satgas  Sentot Prawiro Dirjo, serta keluarga besar perguruan pencak silat se Kab. Madiun.
 Dijelaskan oleh Wakil Bupati Madiun, H. Iswanto sebagaimana diketahui bersama, bahwa Kab. Madiun merupakan pusat dari berbagai perguruan pencak silat di tanah air, untuk sudah sepantasnya apabila dari madiun dikenal sebagai kampong pesilat, sehingga Kab. Madiun ini juga berfungsi sebagai pusat penetasan atau kawah condrodimuko bagi para atlit pencak silat atau pendekar tingkat nasional bahkan internasional.
Lebih lanjut dikatakan, Wabup. Madiun juga mengajak seluruh insan yang berkecimpung di dunia pencak silat sepakat untuk memperkokoh sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa baik di intern maupun antar anggota pencak silat, ikut berkompetisi untuk meraih prestasi di bidang pencak silat melalui bina laga atau gelar pencak silat melalui bina laga atau gelar pencak silat, Terus meningkatkan kualitas SDM para anggota perguruan pencak sialat, baik melalui hard skil (kemampuan fisik), dalam pencak silat, kemampuan fisik adalah mampu untuk memainkan jurus-jurus dengan baik, serta peningkatan SDM melalui softskills (kemampuan intelektual, penguasaan emosi diri, motivasi yang tinggi untuk raih prestasi, semangat untuk cipta rasa aman dan nyaman bagi masyarakat serta dapat bekerjsama dengan timnya secara baik) serta menyadari bahwa dalam upaya peningkatan dan pengembangan kualitas SDM para anggota perguruan pencak silat dimaksut dalam upaya turut serta secara bersama-sama.
Wabup. Madiun juga berharap agar semua pengurus dan anggota perguruan pencak silat di Kab. Madiun dapat mempertajam kepekaan empati untuk olah fikir, olah rasa dan fisik, sehingga dapat mendukung “Terwujudnya Kabupaten Madiun Lebih sejahtera Tahun 2018”. Wujudkan persatuan dan kesatuan di intern dan antar perguruan pencak silat, Cetak bibit atlit berbakat yang dapat berprestasi di kancah Nasional dan Internasional, optimalkan keberadaan IPSI. Dan kepada  dinas terkait diharapkan mampu mengelola asset yang telah ada dengan berkoordinasi dengan pengurus perguruan silat yang ada.

Menandai dimulainya Gelar Pencak Silat Seni Tradisi di Taman Wisata Umbul Squaer diadakan pertunjukan Seni Barongsai dan Petas Atlit Pencak Silat dari Perguruan Silat Kera Sakti. (p-76)
Baca

Mesum Ditempat Kos, Tiga Pasang Muda Mudi Di Garuk Petugas

Madiun Kota, Investigasi ; Kelewat batas, itulah ungkapan yang pas untuk tiga pasang muda mudi ini. Tengah hari bolong mereka asyik bermesaraan di dalam kamar kos yang tertutup. Melihat hal ini, Satpol PP Kota Madiun langsung mengamankan tiga pasangan bukan suami istri saat melakukan razia rumah kos jalan Cempaka, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jumat (26/2/2016).
Ketiga pasang muda mudi mesum ini adalah Husin Bayu Kurniawan (20) warga jalan Genen, Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun bersama Yeni Eva Anasari (23) warga Desa/Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo. Risang Rachman Putra Pamungkas (20) warga jalan Podang, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun bersama Alvino Gustian Aditama (17) warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Nancy Nathania Rahardja (21) warga jalan Imam Bonjol, Kelurahan Klegen, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun bersama Enggar Dwi Susetyo (21) warga jalan Terate, Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
"Kami tadi juga mengecek apakah rumah kos tersebut memiliki izin apa belum, termasuk rumah kos itu untuk satu jenis kelamin, perempuan saja, laki-laki saja atau campur. Ternyata disana ada pasangan campuran, sehingga ini menjadi atensi kami sebagai aparat penegak Perda melakukan penertiban,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa razia dilakukan bertujuan untuk menetralisir lokasi rumah kos yang disinyalir meresahkan masyarakat karena sering terjadi kegaduhan saat malam hari. Menindaklanjuti hal itu, petugas Satpol PP langsung melakukan operasi penyakit masyarakat (pekat), termasuk pengecekan izin rumah kos.
Ditegaskan, saat ini masih melalukan pendataan terhadap rumah kos tersebut, jika diketahui tidak berijin, pemilik kos akan diberikan sanksi mulai teguran sampai saksi terberat pencabutan izin operasi rumah kos.
Diketahui, tiga pasangan muda-mudi yang diamankan petugas tersebut merupakan wajah atau pemain lama, diantaranya berstatus mahasiswa maupun bekerja sebagai pemandu lagu salah satu kafe di Kota Madiun.
Menindaklanjuti hal itu, ketiga pasangan muda-mudi akan menjalani sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Kota Madiun, karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kota Madiun No. 8 Tahun 2010 tentang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. (p-76)
Madiun Kota, Investigasi ; Kelewat batas, itulah ungkapan yang pas untuk tiga pasang muda mudi ini. Tengah hari bolong mereka asyik bermesaraan di dalam kamar kos yang tertutup. Melihat hal ini, Satpol PP Kota Madiun langsung mengamankan tiga pasangan bukan suami istri saat melakukan razia rumah kos jalan Cempaka, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jumat (26/2/2016).
Ketiga pasang muda mudi mesum ini adalah Husin Bayu Kurniawan (20) warga jalan Genen, Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun bersama Yeni Eva Anasari (23) warga Desa/Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo. Risang Rachman Putra Pamungkas (20) warga jalan Podang, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun bersama Alvino Gustian Aditama (17) warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Nancy Nathania Rahardja (21) warga jalan Imam Bonjol, Kelurahan Klegen, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun bersama Enggar Dwi Susetyo (21) warga jalan Terate, Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
"Kami tadi juga mengecek apakah rumah kos tersebut memiliki izin apa belum, termasuk rumah kos itu untuk satu jenis kelamin, perempuan saja, laki-laki saja atau campur. Ternyata disana ada pasangan campuran, sehingga ini menjadi atensi kami sebagai aparat penegak Perda melakukan penertiban,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa razia dilakukan bertujuan untuk menetralisir lokasi rumah kos yang disinyalir meresahkan masyarakat karena sering terjadi kegaduhan saat malam hari. Menindaklanjuti hal itu, petugas Satpol PP langsung melakukan operasi penyakit masyarakat (pekat), termasuk pengecekan izin rumah kos.
Ditegaskan, saat ini masih melalukan pendataan terhadap rumah kos tersebut, jika diketahui tidak berijin, pemilik kos akan diberikan sanksi mulai teguran sampai saksi terberat pencabutan izin operasi rumah kos.
Diketahui, tiga pasangan muda-mudi yang diamankan petugas tersebut merupakan wajah atau pemain lama, diantaranya berstatus mahasiswa maupun bekerja sebagai pemandu lagu salah satu kafe di Kota Madiun.
Menindaklanjuti hal itu, ketiga pasangan muda-mudi akan menjalani sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Kota Madiun, karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kota Madiun No. 8 Tahun 2010 tentang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. (p-76)
Baca

Siswa Dan Wali Murid Lurug Dindik Kabupaten Madiun Tanyakan Pungutan Liar

Madiun, Investigasi : Kasus dugaan terkait dengan tarikan iuaran illegal yang terjadi di SMKN 1 Kare akhirnya mencuat keluar seiring dengan melurugnya 12 siswa SMKN 1 Kare ke Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Kamis (25/2/16).
Ke 12 siswa ini ingin mengklarifikasi terkait dengan pelbagai tarikan iuaran yang terjadi di SMKN 1 Kare. “Kedatangan kami ini ingin mengklarifikasi adanya sejumlah pungli yang dilakukan oleh pihak SMKN 1 Kare,” ungkap Sofyan Adi Pratama.
Dilanjutkan, pihaknya mempertanyakan terkait dengan pungutan wajib sebesar Rp. 600 ribu untuk uji kompetensi keahlian (UKK). “Semua siswa yang ikut UKK ditarik biaya, padahal kan sudah didanai oleh bantuan Operasional Sekolah (BOS),’ lanjut Sofyan.
Sebelum mencuatnya kasus pungutan liar ini, pihak orang tua murid sudah berupaya dating ke SMKN 1 Kare namun tidak pernah bisa bertemu dengan Kepala Sekolahnya. Sehingga akhirnya orangtua dan siswa mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk mempertanyakan masalah pungli tersebut. “Kami ingin lihat tindakan dari Dinas Pendidikan seperti apa terhadap SMKN 1 Kare,” kata Dasianto.
Lebih lanjut Dasianto menjelaskan bahwa selain pungutan wajib itu, siswa juga di bebani biaya lainnya seperti biaya Prakerin, dan biaya UAS (Ujian Akhir Semester) sebesar Rp. 50 ribu setiap siswa. Selain itu sejumlah siswa juga mempertanyakan penyaluran dana BKSM (Bantuan Keuangan Siswa Miskin) di SMKN 1 Kare yang selama ini di anggap  tidak jelas keberadaan dan penggunaannya. “Terkait dengan pungutan Rp. 600 ribu kemarin itu tidak ada surat edarannya, hanya secara lisan saja kalau wajib bayar,” keluhnya.
Banyak Wali murid yang berharap pada Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk bisa menyelesaikan permasalahan ini. “Kalau masalah ini tidak bisa diselesaikan disini, kami akan mengadu pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,” tegas Dasianto.
Sementara itu Kabid Pendidikan SMP, SMA dan SMK, Tri Wiyono membenarkan adanya dana yang di alokasikan untuk kegiatan UKK yang dibiayai dari dana BOS. “ Untuk kegiatan produktif memang membutuhkan biaya yang tinggi, cuma semua harus sudah terencana dari awal, kalau di perencanaan tidak ada, kemudian kosnya membutuhkan, itu boleh menarik biaya, dengan catatan harus ada persetujuan dari orangtua tidak serta merta sekolah harus menarik tanpa ada kesepakatan dari pihak orang tua,” Jelasnya.
Dan jika terbukti telah terjadi pungli di SMK N 1 Kare, Tri Wiyono berjanji akan segera menindaklanjuti apa yang menjadi tuntutan dari orang tua dan siswa. Pihaknya akan segera mengkoordinasikannya dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk menindak tegas perbuatan pungli tersebut. Hari ini juga surat sudah kita konsep dan segera kita kirimkan ke SMK N 1 Kare, dan tim kami dari Dinas Pendidikan akan segera klarifikasi dan verivikasi apa yang menjadi tuntutan orang tua siswa," Jelas Tri Wiyono usai  menerima sejumlah wali murid dan siswa SMK N 1 Kare itu. (p-76)


Madiun, Investigasi : Kasus dugaan terkait dengan tarikan iuaran illegal yang terjadi di SMKN 1 Kare akhirnya mencuat keluar seiring dengan melurugnya 12 siswa SMKN 1 Kare ke Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Kamis (25/2/16).
Ke 12 siswa ini ingin mengklarifikasi terkait dengan pelbagai tarikan iuaran yang terjadi di SMKN 1 Kare. “Kedatangan kami ini ingin mengklarifikasi adanya sejumlah pungli yang dilakukan oleh pihak SMKN 1 Kare,” ungkap Sofyan Adi Pratama.
Dilanjutkan, pihaknya mempertanyakan terkait dengan pungutan wajib sebesar Rp. 600 ribu untuk uji kompetensi keahlian (UKK). “Semua siswa yang ikut UKK ditarik biaya, padahal kan sudah didanai oleh bantuan Operasional Sekolah (BOS),’ lanjut Sofyan.
Sebelum mencuatnya kasus pungutan liar ini, pihak orang tua murid sudah berupaya dating ke SMKN 1 Kare namun tidak pernah bisa bertemu dengan Kepala Sekolahnya. Sehingga akhirnya orangtua dan siswa mendatangi Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk mempertanyakan masalah pungli tersebut. “Kami ingin lihat tindakan dari Dinas Pendidikan seperti apa terhadap SMKN 1 Kare,” kata Dasianto.
Lebih lanjut Dasianto menjelaskan bahwa selain pungutan wajib itu, siswa juga di bebani biaya lainnya seperti biaya Prakerin, dan biaya UAS (Ujian Akhir Semester) sebesar Rp. 50 ribu setiap siswa. Selain itu sejumlah siswa juga mempertanyakan penyaluran dana BKSM (Bantuan Keuangan Siswa Miskin) di SMKN 1 Kare yang selama ini di anggap  tidak jelas keberadaan dan penggunaannya. “Terkait dengan pungutan Rp. 600 ribu kemarin itu tidak ada surat edarannya, hanya secara lisan saja kalau wajib bayar,” keluhnya.
Banyak Wali murid yang berharap pada Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk bisa menyelesaikan permasalahan ini. “Kalau masalah ini tidak bisa diselesaikan disini, kami akan mengadu pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,” tegas Dasianto.
Sementara itu Kabid Pendidikan SMP, SMA dan SMK, Tri Wiyono membenarkan adanya dana yang di alokasikan untuk kegiatan UKK yang dibiayai dari dana BOS. “ Untuk kegiatan produktif memang membutuhkan biaya yang tinggi, cuma semua harus sudah terencana dari awal, kalau di perencanaan tidak ada, kemudian kosnya membutuhkan, itu boleh menarik biaya, dengan catatan harus ada persetujuan dari orangtua tidak serta merta sekolah harus menarik tanpa ada kesepakatan dari pihak orang tua,” Jelasnya.
Dan jika terbukti telah terjadi pungli di SMK N 1 Kare, Tri Wiyono berjanji akan segera menindaklanjuti apa yang menjadi tuntutan dari orang tua dan siswa. Pihaknya akan segera mengkoordinasikannya dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun untuk menindak tegas perbuatan pungli tersebut. Hari ini juga surat sudah kita konsep dan segera kita kirimkan ke SMK N 1 Kare, dan tim kami dari Dinas Pendidikan akan segera klarifikasi dan verivikasi apa yang menjadi tuntutan orang tua siswa," Jelas Tri Wiyono usai  menerima sejumlah wali murid dan siswa SMK N 1 Kare itu. (p-76)


Baca

Air Terjun Kedung Malem (Seweru)

Madiun, Investigasi : Air Terjun Seweru atau Serondo atau Kedung Malam, itulah nama lain dari Air Terjun Slampir Madiun. Selaras dengan banyaknya sebutan yang disematkan padanya, air terjun ini juga menyimpan sejuta pesona nan eksotis. Lokasinya terletak di wilayah perkebunan kopi, Dusun Seweru, Desa Kare, Kec. Kare, Kab. Madiun, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota Madiun, berada di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian 400 m diatas permukaan air laut.
Untuk mencapai lokasinya, perlu sedikit kerja keras. Kondisi jalanan di Desa Kare banyak yang belum beraspal dan penuh dengan tanjakan curam. Mobil pribadi ataupun angkutan umum lainnya jarang terlihat melintasi daerah ini. Hanya sepeda atau sepeda motor yang bisa dengan leluasa melalui jalanan berbatu-batunya. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, anda akan disuguhi panorama indah yang tak boleh dilewatkan dari pohon-pohonan hijau yang ada di kiri dan kanan jalan.
Air Terjun Slampir Madiun ini masih belum dikelola secara komersial oleh pihak Pemkab Madiun. Sesampainya di desa tempat air terjun berada, anda hanya perlu menitipkan kendaraan yang anda gunakan kepada penduduk setempat dan mulai berjalan kaki menuruni daerah perbukitan sejauh 1 km. Belum ada penarikan karcis masuk atau retribusi pembangunan di pintu masuk menuju jalan setapak ke air terjunnya.
Jalan setapak dari pintu masuk atau tempat parkir kendaraan menuju ke air terjun agak rawan. Kondisinya sempit, agak licin, sedikit curam, dan banyak yang tidak berpengaman sehingga bersentuhan langsung dengan tebing perbukitan. Bagi para pecinta alam yang suka adventure, tempat ini merupakan ajang yang bagus untuk berlatih hiking dan penjelajahan.
Setelah menuruni daerah perbukitan dengan jalan setapaknya yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, ada sebuah sungai yang juga harus anda susuri. Air sungainya tidak terlalu dalam dan tidak keras arusnya. Namun, anda harus berhati-hati dengan banyaknya bebatuan yang terhampar disekeling sungai. Batu-batu besar dan kokoh diantara aliran sungai yang masih alami ini, akan membuat perjalanan anda bertambah menantang
Air Terjun Slampir terdapat dibalik sebuah tebing yang gagah dengan dua buah aliran air terjun yang letaknya saling berhadapan satu sama lain. Airnya sangat jernih dan juga dingin. Pepohonan rindang yang ada di kiri-kanan bibir sungai dan tebing-tebingnya, membuat suasana di lokasi air terjun ini cukup sejuk dan teduh. Tengah hari di siang bolongpun, akan terasa seperti pagi hari disana.
Mengingat lokasinya yang masih sulit dicapai dan keadaannya yang masih sangat perawan, kemungkinan besar belum ada angkutan umum (mobil) yang bisa melayani rute perjalanan sampai ke air terjun. Dari pusat kota Madiun, sebaiknya anda mengendarai sepeda motor, ambil jalan ke arah Dungus – Wungu – kemudian menuju Kare – Seweru (Slampir).
Jangan malu bertanya kepada masyarakat sekitar jika anda ragu-ragu atau kurang yakin dengan jalan yang sedang anda lewati karena tidak ada petunjuk arah yang cukup jelas disekitar jalan untuk memandu perjalanan anda sampai ke tujuan yang benar. Kalaupun ada, hanya satu dua petunjuk arah dan kurang jelas terbaca karena banyak yang tidak terawat baik. Penduduk di sepanjang perjalanan menuju Air Terjun Slampir Madiun ini cukup ramah dan sangat tahu jalan tercepat menuju ke air terjun.
Jika anda menempuh perjalanan dari kota Ponorogo, tak perlu melewati pusat kota Madiun. Begitu melewati perempatan lalu lintas Tek’an (pintu masuk menuju pusat kota Madiun), anda bisa mengambil jalur langsung ke Manisrejo – kemudian Dungus – Wungu – Kare – Seweru (Slampir).
Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk kegiatan outbound. Saat melakukan perjalanan ke Air Terjun Slampir Madiun ini, saya hanya menggunakan sandal dan karenanya terpaksa harus menempuh perjalanan dengan bertelanjang kaki karena takut terpeleset ketika melewati jalan setapak yang sempit dan menyusuri sungai berbatu-batu yang cukup menguras tenaga.
Di sekitar tempat ini juga belum ada penginapan maupun rumah makan yang layak disinggahi oleh para wisatawan yang datang berkunjung. Sebaiknya, siapkan perbekalan sendiri (terutama air minum) dari rumah sebelum mulai berpetualang ke Air Terjun Slampir Madiun. Warung makan yang ada disekitar air terjun tidak buka setiap hari, kecuali warung kecil di pintu utama sebelum masuk ke jalan setapak menuju lokasi air terjun yang juga menyediakan tempat parkiran bagi kendaraan pengunjung.
Madiun, Investigasi : Air Terjun Seweru atau Serondo atau Kedung Malam, itulah nama lain dari Air Terjun Slampir Madiun. Selaras dengan banyaknya sebutan yang disematkan padanya, air terjun ini juga menyimpan sejuta pesona nan eksotis. Lokasinya terletak di wilayah perkebunan kopi, Dusun Seweru, Desa Kare, Kec. Kare, Kab. Madiun, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota Madiun, berada di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian 400 m diatas permukaan air laut.
Untuk mencapai lokasinya, perlu sedikit kerja keras. Kondisi jalanan di Desa Kare banyak yang belum beraspal dan penuh dengan tanjakan curam. Mobil pribadi ataupun angkutan umum lainnya jarang terlihat melintasi daerah ini. Hanya sepeda atau sepeda motor yang bisa dengan leluasa melalui jalanan berbatu-batunya. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, anda akan disuguhi panorama indah yang tak boleh dilewatkan dari pohon-pohonan hijau yang ada di kiri dan kanan jalan.
Air Terjun Slampir Madiun ini masih belum dikelola secara komersial oleh pihak Pemkab Madiun. Sesampainya di desa tempat air terjun berada, anda hanya perlu menitipkan kendaraan yang anda gunakan kepada penduduk setempat dan mulai berjalan kaki menuruni daerah perbukitan sejauh 1 km. Belum ada penarikan karcis masuk atau retribusi pembangunan di pintu masuk menuju jalan setapak ke air terjunnya.
Jalan setapak dari pintu masuk atau tempat parkir kendaraan menuju ke air terjun agak rawan. Kondisinya sempit, agak licin, sedikit curam, dan banyak yang tidak berpengaman sehingga bersentuhan langsung dengan tebing perbukitan. Bagi para pecinta alam yang suka adventure, tempat ini merupakan ajang yang bagus untuk berlatih hiking dan penjelajahan.
Setelah menuruni daerah perbukitan dengan jalan setapaknya yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, ada sebuah sungai yang juga harus anda susuri. Air sungainya tidak terlalu dalam dan tidak keras arusnya. Namun, anda harus berhati-hati dengan banyaknya bebatuan yang terhampar disekeling sungai. Batu-batu besar dan kokoh diantara aliran sungai yang masih alami ini, akan membuat perjalanan anda bertambah menantang
Air Terjun Slampir terdapat dibalik sebuah tebing yang gagah dengan dua buah aliran air terjun yang letaknya saling berhadapan satu sama lain. Airnya sangat jernih dan juga dingin. Pepohonan rindang yang ada di kiri-kanan bibir sungai dan tebing-tebingnya, membuat suasana di lokasi air terjun ini cukup sejuk dan teduh. Tengah hari di siang bolongpun, akan terasa seperti pagi hari disana.
Mengingat lokasinya yang masih sulit dicapai dan keadaannya yang masih sangat perawan, kemungkinan besar belum ada angkutan umum (mobil) yang bisa melayani rute perjalanan sampai ke air terjun. Dari pusat kota Madiun, sebaiknya anda mengendarai sepeda motor, ambil jalan ke arah Dungus – Wungu – kemudian menuju Kare – Seweru (Slampir).
Jangan malu bertanya kepada masyarakat sekitar jika anda ragu-ragu atau kurang yakin dengan jalan yang sedang anda lewati karena tidak ada petunjuk arah yang cukup jelas disekitar jalan untuk memandu perjalanan anda sampai ke tujuan yang benar. Kalaupun ada, hanya satu dua petunjuk arah dan kurang jelas terbaca karena banyak yang tidak terawat baik. Penduduk di sepanjang perjalanan menuju Air Terjun Slampir Madiun ini cukup ramah dan sangat tahu jalan tercepat menuju ke air terjun.
Jika anda menempuh perjalanan dari kota Ponorogo, tak perlu melewati pusat kota Madiun. Begitu melewati perempatan lalu lintas Tek’an (pintu masuk menuju pusat kota Madiun), anda bisa mengambil jalur langsung ke Manisrejo – kemudian Dungus – Wungu – Kare – Seweru (Slampir).
Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk kegiatan outbound. Saat melakukan perjalanan ke Air Terjun Slampir Madiun ini, saya hanya menggunakan sandal dan karenanya terpaksa harus menempuh perjalanan dengan bertelanjang kaki karena takut terpeleset ketika melewati jalan setapak yang sempit dan menyusuri sungai berbatu-batu yang cukup menguras tenaga.
Di sekitar tempat ini juga belum ada penginapan maupun rumah makan yang layak disinggahi oleh para wisatawan yang datang berkunjung. Sebaiknya, siapkan perbekalan sendiri (terutama air minum) dari rumah sebelum mulai berpetualang ke Air Terjun Slampir Madiun. Warung makan yang ada disekitar air terjun tidak buka setiap hari, kecuali warung kecil di pintu utama sebelum masuk ke jalan setapak menuju lokasi air terjun yang juga menyediakan tempat parkiran bagi kendaraan pengunjung.
Baca

Air Terjun Denu

Madiun, Investigasi : Air Terjun Krecekan Denu terletak di Desa Kepel, Grape Madiun. Air terjun ini terletak sekitar 4 km dari Grape. Perjalanan terasa mengasyikan karena melalui hutan yang masih asri.
Namun disini perlu diketahui bahwa jalan beraspal yang akan dilalui sudah banyak yang rusak, sehingga para pengunjung yang akan menuju ke Air Terjun Denu wajib berhati-hati.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 kilometer, tibalah di depan gapura yang merupakan pintu masuk lokasi air terju. Di gapura tersebut ada tulisan Air Terjun Krecekan Denu. Belokkan dan masukkan kendaraan anda, cukup membayar tiket masuk seharga Rp.1.000,- /orang saja anda sudah bisa masuk ke tempat wisata ini.
Jangan terkecoh, tempat parker kendaraan tersebut masih jauh dari lokasi Air Terjun Krecekan Denu. Para pengunjung masih harus berjalan kaki untuk menuju lokasinya. Namun jangan khawatir, selama diperjalanan, banyak warung-warung yang bisa dijadikan tempat beristirahat sambil menikmati makanan khas yaitu gorengan dan aneka es. Warung-warung tersebut milik dari masyarakat sekitar.
Setelah melewati tanjakan dan turunan serta menyeberangi sungai, sampailah pengunjung dilokasi Air Terjun Denu. Dibawah air terjun terdapat genangan air yang menyerupai kolam.
Ditumpahan air tersebut, para pengunjung bisa bermain air sepuasnya atau sekedar duduk sembari menikmati keindahan alam sekitar yang masih asri. Namun yang perlu diwaspadai adalah, apabila musim hujan, para pengunjung wajib berhati-hati apabila berenang dibawah air terjun karena rawan terjadi longsoran batu.

Apabila sudah puas bermain air, pengunjung bisa berganti pakaian dikamar mandi yang sudah disediakan oleh Pemerintah Desa setempat sembari menikmati makanan diwarung-warung yang berada disekitar air terjun.
Madiun, Investigasi : Air Terjun Krecekan Denu terletak di Desa Kepel, Grape Madiun. Air terjun ini terletak sekitar 4 km dari Grape. Perjalanan terasa mengasyikan karena melalui hutan yang masih asri.
Namun disini perlu diketahui bahwa jalan beraspal yang akan dilalui sudah banyak yang rusak, sehingga para pengunjung yang akan menuju ke Air Terjun Denu wajib berhati-hati.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 kilometer, tibalah di depan gapura yang merupakan pintu masuk lokasi air terju. Di gapura tersebut ada tulisan Air Terjun Krecekan Denu. Belokkan dan masukkan kendaraan anda, cukup membayar tiket masuk seharga Rp.1.000,- /orang saja anda sudah bisa masuk ke tempat wisata ini.
Jangan terkecoh, tempat parker kendaraan tersebut masih jauh dari lokasi Air Terjun Krecekan Denu. Para pengunjung masih harus berjalan kaki untuk menuju lokasinya. Namun jangan khawatir, selama diperjalanan, banyak warung-warung yang bisa dijadikan tempat beristirahat sambil menikmati makanan khas yaitu gorengan dan aneka es. Warung-warung tersebut milik dari masyarakat sekitar.
Setelah melewati tanjakan dan turunan serta menyeberangi sungai, sampailah pengunjung dilokasi Air Terjun Denu. Dibawah air terjun terdapat genangan air yang menyerupai kolam.
Ditumpahan air tersebut, para pengunjung bisa bermain air sepuasnya atau sekedar duduk sembari menikmati keindahan alam sekitar yang masih asri. Namun yang perlu diwaspadai adalah, apabila musim hujan, para pengunjung wajib berhati-hati apabila berenang dibawah air terjun karena rawan terjadi longsoran batu.

Apabila sudah puas bermain air, pengunjung bisa berganti pakaian dikamar mandi yang sudah disediakan oleh Pemerintah Desa setempat sembari menikmati makanan diwarung-warung yang berada disekitar air terjun.
Baca

Tidak Terima Dengan Berita Bohong, Bupati Madiun Somasi Pertamina

Madiun, Investigasi : Pemberitaan Tentang Bupati Madiun, H. Muhtarom yang mendapatkan teguran dari Pertamina terkait dengan kecurangan SPBU miliknya yang ditayangkan oleh CNN Indonesia disikapi serius oleh H. Muhtarom dengan melayangkan surat somasi melalui kurir. Senin (22/2/16)
Saat memberikan klarifikasi dihadapan Awak Media, Bupati Madiun, H. Muhtarom mangatakan pihaknya meminta penjelasan terkait statmen yang dilontarkan oleh Direktur Pemasaran PT. Pertamina Pusat yang menyatakan bahwa SPBU milik Bupati Madiun terindikasi melakukan praktek manipulasi dalam pengisian BBM.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Bupati Madiun meminta pihak Pertamina agar meminta maaf melalui media terkait dengan pemberitaan yang sudah beredar selama ini. Selanjutnya Bupati Madiun memberikan batas waktu 3 x 24 jam kepada pihak Pertamina sejak surat somasi tersebut dilayangkan. “Saya beri waktu 3×24 jam kepada Pertamina sejak surat diterima. Jika tidak ada tanggapan, saya bupati Madiun, Muhtarom, akan mengambil langkah lebih lanjut (proses hukum),” tegas Bupati Madiun, Muhtarom.
Bupati mengaku, bahwa dirinya merasa dirugikan dengan adanya pemberitaan yang dilakjukan tanpa klarifikasi tersebut. Hal itu berarti sudah menuduh tanpa bukti. “Saya sangat dirugikan dengan adanya berita itu. Kalau menurut penegak hukum, itu sudah memenuhi unsur (pidana). Karena sudah lebih dari fitnah. Berita ini sangat sensitif sekali,” tandasnya.
Mendapatkan surat somasi tersebut, PT Pertamina mengutus Sales Representative Retail Pertamina Depo Madiun, Anditya Anwar, dengan didampingi Sekretaris Hiswana Madiun, Agus Wiyono, menghadap Bupati Madiun dan diterima di Pendopo Muda Graha. Dalam pertemuan tersebut, pihak Pertamina meminta maaf secara terbuka dan berharap masalah ini selesai.
Saat memberikan keterangan, Anditya, mengatakan bahwa secara pribadi, Bupati Madiun telah memafkan. Karena yang dimaksud dalam berita yang dimuat di sebuah media online yang berkantor di Jakarta, bukan Bupati Madiun. Tapi Walikota Madiun.
“Secara pribadi pak bupati sudah memaafkan. Memang benar ada laporan dari masyarakat jika SPBU di Jalan Panjaitan dan Jalan Diponegoro diduga melakukan kecurangan. Tapi setelah kita cek, tidak benar,” kata  Anditya Anwar.
Memang secara pribadi Bupati Madiun menerima permintaan maaf dari Pertamina yang diwakili oleh Sales Representative Retailnya, namun disisi lain masih ada yang mengganjal yaitu Sales Representative Retail tersebut bukan levelnya. “Masa yang kesini (minta maaf) cuma sekelas Sales Retail. Maaf saja, bukan saya sombong dan jangan dikira saya sombong. Ya tidak level. Kenapa tidak kepala Depo-nya. Ya memang saya maafkan untuk pribadi dia (Anditya Anwar). Bukan masalah yang lainnya,” pungkas Bupati Madiun, Muhtarom. (p-76)
Madiun, Investigasi : Pemberitaan Tentang Bupati Madiun, H. Muhtarom yang mendapatkan teguran dari Pertamina terkait dengan kecurangan SPBU miliknya yang ditayangkan oleh CNN Indonesia disikapi serius oleh H. Muhtarom dengan melayangkan surat somasi melalui kurir. Senin (22/2/16)
Saat memberikan klarifikasi dihadapan Awak Media, Bupati Madiun, H. Muhtarom mangatakan pihaknya meminta penjelasan terkait statmen yang dilontarkan oleh Direktur Pemasaran PT. Pertamina Pusat yang menyatakan bahwa SPBU milik Bupati Madiun terindikasi melakukan praktek manipulasi dalam pengisian BBM.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Bupati Madiun meminta pihak Pertamina agar meminta maaf melalui media terkait dengan pemberitaan yang sudah beredar selama ini. Selanjutnya Bupati Madiun memberikan batas waktu 3 x 24 jam kepada pihak Pertamina sejak surat somasi tersebut dilayangkan. “Saya beri waktu 3×24 jam kepada Pertamina sejak surat diterima. Jika tidak ada tanggapan, saya bupati Madiun, Muhtarom, akan mengambil langkah lebih lanjut (proses hukum),” tegas Bupati Madiun, Muhtarom.
Bupati mengaku, bahwa dirinya merasa dirugikan dengan adanya pemberitaan yang dilakjukan tanpa klarifikasi tersebut. Hal itu berarti sudah menuduh tanpa bukti. “Saya sangat dirugikan dengan adanya berita itu. Kalau menurut penegak hukum, itu sudah memenuhi unsur (pidana). Karena sudah lebih dari fitnah. Berita ini sangat sensitif sekali,” tandasnya.
Mendapatkan surat somasi tersebut, PT Pertamina mengutus Sales Representative Retail Pertamina Depo Madiun, Anditya Anwar, dengan didampingi Sekretaris Hiswana Madiun, Agus Wiyono, menghadap Bupati Madiun dan diterima di Pendopo Muda Graha. Dalam pertemuan tersebut, pihak Pertamina meminta maaf secara terbuka dan berharap masalah ini selesai.
Saat memberikan keterangan, Anditya, mengatakan bahwa secara pribadi, Bupati Madiun telah memafkan. Karena yang dimaksud dalam berita yang dimuat di sebuah media online yang berkantor di Jakarta, bukan Bupati Madiun. Tapi Walikota Madiun.
“Secara pribadi pak bupati sudah memaafkan. Memang benar ada laporan dari masyarakat jika SPBU di Jalan Panjaitan dan Jalan Diponegoro diduga melakukan kecurangan. Tapi setelah kita cek, tidak benar,” kata  Anditya Anwar.
Memang secara pribadi Bupati Madiun menerima permintaan maaf dari Pertamina yang diwakili oleh Sales Representative Retailnya, namun disisi lain masih ada yang mengganjal yaitu Sales Representative Retail tersebut bukan levelnya. “Masa yang kesini (minta maaf) cuma sekelas Sales Retail. Maaf saja, bukan saya sombong dan jangan dikira saya sombong. Ya tidak level. Kenapa tidak kepala Depo-nya. Ya memang saya maafkan untuk pribadi dia (Anditya Anwar). Bukan masalah yang lainnya,” pungkas Bupati Madiun, Muhtarom. (p-76)
Baca

Bupati Madiun Buka Lomba Kreativitas Di Pendopo Muda Graha

Madiun, Investigasi : Perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun terhadap para pelajar memang tidak diragukan lagi. Apalagi sekarang ini Pemerintah Kabupaten Madiun tengah mencari bibit-bibit muda dari seluruh pelosok Kabupaten Madiun yang bisa dibanggakan kedepannya.
Tampak hadir, Wakil Bupati Madiun, Sekda Kabupaten Madiun, Ketua DPRD Kabupaten Madiun, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun, Kepala Sekolah SMP, SMA/SMK Se Kabupaten Madiun dan tamu undangan lainnya.
Salah satu cara untuk mencari bibit-bibit muda yang berpotensi adalah dengan menggelar lomba kreatifitas pelajar yang terdiri dari lomba olimpiade sains nasional (OSN), festival lomba seni siswa nasional (FLS2N), olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN), pekan olahraga pelajar daerah (POPDA), lomba kompetensi siswa (LKS), seleksi siswa berprestasi dan paskibraka.
Lomba ini diadakan dipendopo Muda Graha, Selasa (23/2/16) dan dibuka langsung oleh Bupati Madiun, H. Muhtarom.
Dalam sambutannya, Bupati Madiun, H Muhtarom mengatakan, tuntutan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia lewat pendidikan formal di sekolah tidak terfokus pada nilai- nilai akademik saja, namun juga memperhatikan kegiatan ekstrakurikuler. “Untuk mewujudkan keberhasilan dan pengembangan pelajar yang berkarakter perlu wadah kegiatan yang menunjang prestasi akademik dan non akademik. Hal ini menjadi kebutuhan karena siswa diharapkan mendapat pengalaman belajar yang utuh sesuai dengan perkembangannya,” jelas Bupati Madiun.
Bupati Madiun meminta agar para pelajar terus belajar dan mencari tahu hal-hal yang positif agar bisa  diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata saat terjun dimasyarakat. “Yang penting berusaha dan berusaha untu bekal dimasyarakat nantinya,” lanjut H. Muhtarom.
Diharapkan, dengan adanya lomba kreatifitas ini, para pelajar bisa terus aktif dan penuh kreativitas. “Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas,” pungkasnya. (p-76)
Madiun, Investigasi : Perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun terhadap para pelajar memang tidak diragukan lagi. Apalagi sekarang ini Pemerintah Kabupaten Madiun tengah mencari bibit-bibit muda dari seluruh pelosok Kabupaten Madiun yang bisa dibanggakan kedepannya.
Tampak hadir, Wakil Bupati Madiun, Sekda Kabupaten Madiun, Ketua DPRD Kabupaten Madiun, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun, Kepala Sekolah SMP, SMA/SMK Se Kabupaten Madiun dan tamu undangan lainnya.
Salah satu cara untuk mencari bibit-bibit muda yang berpotensi adalah dengan menggelar lomba kreatifitas pelajar yang terdiri dari lomba olimpiade sains nasional (OSN), festival lomba seni siswa nasional (FLS2N), olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN), pekan olahraga pelajar daerah (POPDA), lomba kompetensi siswa (LKS), seleksi siswa berprestasi dan paskibraka.
Lomba ini diadakan dipendopo Muda Graha, Selasa (23/2/16) dan dibuka langsung oleh Bupati Madiun, H. Muhtarom.
Dalam sambutannya, Bupati Madiun, H Muhtarom mengatakan, tuntutan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia lewat pendidikan formal di sekolah tidak terfokus pada nilai- nilai akademik saja, namun juga memperhatikan kegiatan ekstrakurikuler. “Untuk mewujudkan keberhasilan dan pengembangan pelajar yang berkarakter perlu wadah kegiatan yang menunjang prestasi akademik dan non akademik. Hal ini menjadi kebutuhan karena siswa diharapkan mendapat pengalaman belajar yang utuh sesuai dengan perkembangannya,” jelas Bupati Madiun.
Bupati Madiun meminta agar para pelajar terus belajar dan mencari tahu hal-hal yang positif agar bisa  diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata saat terjun dimasyarakat. “Yang penting berusaha dan berusaha untu bekal dimasyarakat nantinya,” lanjut H. Muhtarom.
Diharapkan, dengan adanya lomba kreatifitas ini, para pelajar bisa terus aktif dan penuh kreativitas. “Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas,” pungkasnya. (p-76)
Baca

Kantor Kelurahan Sukosari Dibobol Maling, Hanya LCD dan Hardisk Yang Dibawa

Madiun Kota, Investigasi :  Maling sekarang tidak pandang lokasi, bahkan perkantoran pun tetap digasak. Hal ini terjadi di Kantor Kelurahan Sukosari, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Senin (22/2/2016) malam dibobol pencuri. Anehnya, dari banyak barang berharga di kantor yang baru dibangun sekitar satu tahun itu, hanya kehilangan LCD dan hardisc saja. Diduga pelaku pencurian mengincar data-data penting yang ada di dalam hardisc.
Setelah mendengar kejadian itu, Suryono langsung mendatangi kantor kelurahan yang berada di jalan Basuki Rahmad. Disana dirinya mengetahui jika LCD dan CPU yang berada diruangannya telah raib diambil pencuri. Suryono pun mencoba untuk mencari disekeliling kantor kelurahan dan hanya menemukan casing CPU yang ditinggal pencuri.
Lurah Sukosari, Suryono mengatakan, kejadian diperkirakan antara pukul 17.30 Wib hingga pukul 04.00 Wib. Pasalnya pada waktu itu, kantor sudah ditinggalkan pegawai dan hanya tersisa penjaga saja. Suryono mengaku, dirinya awal kali mengetahui kejadian itu saat ditelephone penjaga yang bernama Ardi sekitar pukul 04.58 Wib.
"Saya terima laporan dari penjaga. Setelah subuhan saya buka HP, ternyata ada nomor kelurahan. Lalu saya telephone penjaga. Dia bilang kalau komputernya nggak ada,"katanya, Selasa (23/2/16).
Suryono menuturkan, diduga pencuri yang lebih dari satu orang itu masuk melewati pagar yang hanya tingginya sekitar 1 meter. Kemudian mencongkel jendela disebelah timur. "Sepertinya lewat dari jendela timur, itu bekas dicongkel. Setelah itu saya laporkan ke babinsa, kelihatanya babinsa lapor ke polres,"ucapnya sembari menjelaskan kalau kerugian ditaksir sekitar Rp. 10 juta.
Sementara itu, Satreskrim Polres Madiun Kota yang menerima laporan pencurian, langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi kantor kelurahan Selasa (23/2/2016). Olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim, AKP Masykur menyisir ruang lurah serta ruang pelayanan. Dari Hasil Olah TKP, petugas mengamankan barang bukti, diantaranya satu unit casing CPU. "Yang diambil hanya perangkat Hardisk'nya, sedangkan lainnya diletakkan di belakang kantor,"katanya usai melakukan olah TKP, Selasa(23/2/2016).
Saat ini petugas masih melakukan penyelidikan untuk mendalami motif yang dilakukan pelaku pencurian. Berdasarkan hasil olah TKP, petugas menduga aksi pembobolan ruang kerja lurah Sukosari dilakukan dua orang. "Kemungkinan ini dilakukan dua orang, yang satu badannya kecil yang satu sedang. Karena untuk menuju ke ruang lurah dari ruang pelayanan kan sempit," tandasnya. (p-76)
Madiun Kota, Investigasi :  Maling sekarang tidak pandang lokasi, bahkan perkantoran pun tetap digasak. Hal ini terjadi di Kantor Kelurahan Sukosari, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Senin (22/2/2016) malam dibobol pencuri. Anehnya, dari banyak barang berharga di kantor yang baru dibangun sekitar satu tahun itu, hanya kehilangan LCD dan hardisc saja. Diduga pelaku pencurian mengincar data-data penting yang ada di dalam hardisc.
Setelah mendengar kejadian itu, Suryono langsung mendatangi kantor kelurahan yang berada di jalan Basuki Rahmad. Disana dirinya mengetahui jika LCD dan CPU yang berada diruangannya telah raib diambil pencuri. Suryono pun mencoba untuk mencari disekeliling kantor kelurahan dan hanya menemukan casing CPU yang ditinggal pencuri.
Lurah Sukosari, Suryono mengatakan, kejadian diperkirakan antara pukul 17.30 Wib hingga pukul 04.00 Wib. Pasalnya pada waktu itu, kantor sudah ditinggalkan pegawai dan hanya tersisa penjaga saja. Suryono mengaku, dirinya awal kali mengetahui kejadian itu saat ditelephone penjaga yang bernama Ardi sekitar pukul 04.58 Wib.
"Saya terima laporan dari penjaga. Setelah subuhan saya buka HP, ternyata ada nomor kelurahan. Lalu saya telephone penjaga. Dia bilang kalau komputernya nggak ada,"katanya, Selasa (23/2/16).
Suryono menuturkan, diduga pencuri yang lebih dari satu orang itu masuk melewati pagar yang hanya tingginya sekitar 1 meter. Kemudian mencongkel jendela disebelah timur. "Sepertinya lewat dari jendela timur, itu bekas dicongkel. Setelah itu saya laporkan ke babinsa, kelihatanya babinsa lapor ke polres,"ucapnya sembari menjelaskan kalau kerugian ditaksir sekitar Rp. 10 juta.
Sementara itu, Satreskrim Polres Madiun Kota yang menerima laporan pencurian, langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi kantor kelurahan Selasa (23/2/2016). Olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim, AKP Masykur menyisir ruang lurah serta ruang pelayanan. Dari Hasil Olah TKP, petugas mengamankan barang bukti, diantaranya satu unit casing CPU. "Yang diambil hanya perangkat Hardisk'nya, sedangkan lainnya diletakkan di belakang kantor,"katanya usai melakukan olah TKP, Selasa(23/2/2016).
Saat ini petugas masih melakukan penyelidikan untuk mendalami motif yang dilakukan pelaku pencurian. Berdasarkan hasil olah TKP, petugas menduga aksi pembobolan ruang kerja lurah Sukosari dilakukan dua orang. "Kemungkinan ini dilakukan dua orang, yang satu badannya kecil yang satu sedang. Karena untuk menuju ke ruang lurah dari ruang pelayanan kan sempit," tandasnya. (p-76)
Baca

Negosiasi Tamat, PT. AJP Kabur Dari Tanggungjawab

Madiun, Kota Investigasi : Proses negosiasi antara para Mandor dan kuli bangunan dengan PT. AJP yang merupakan pemborong Gedung DPRD Kota Madiun mencapai babak final yaitu dengan minggatnya PT. AJP. Hal ini terungkap setelah PT. AJP selaku rekanan proyek pembangunan Gedung DPRD Kota Madiun tidak hadir dalam pertemuan yang digelar di Kantor Dinsosnaker Kota Madiun. Senin (22/2/16).
Ketidak hadiran PT. AJP ini tentu saja mengingkari kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya yaitu PT. AJP sanggup membayar kekurangan upah yang menjadi hak dari para Mandor dan kuli bangunan yang mengerjakan proyek pembangunan Gedung DPRD Kota Madiun yang senilia Rp. 29,3 miliar tersebut.
Mengetahui bahwa perwakilan PT. AJP tidak hadir, puluhan Mandor dan pekerja bangunan yang sudah menanti lama di Kantor Dinsosnaker Kota Madiun langsung meradang. “Saya kecewa karena uang pekerja yang sudah dua kali ini dijanjikan ternyata meleset,” ujar Nyono Sugiono, Perwakilan dari para Mandor dan pekerja proyek.
Lebih lanjut dikatakan, pihaknya akan melaporkan PT. AJP ini ke Mapolres Madiun Kota karena PT. AJP tidak bertanggungjawab padahal pertemuan ini sudah menjadi kesepakatan bersama sewaktu mengadakan pertemuan yang pertama. Saya hanya minta uang pekerja dan material dibayar," lanjut Nyono Sugiono.
Sementara itu, Kepala Dinsosnaker Kota Madiun, Suyoto HW mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha menghubungi pihak PT. AJP melalui telepon namun semua nomor tidak aktif. “Kalau seperti ini, Saya mendukung langkah dari para Mandor dan pekerja untuk menempuh jalur hokum,” tegasnya.
Setelah mediasi di Kantor Disnakersos tidak mendapatkan hasil, puluhan perwakilan mandor dan pekerja langsung mendatangi Polres Madiun Kota untuk melaporkan kasus ini. Langkah pekerja ini pun didukung oleh Sekwan DPRD Kota Madiun, Agus Sugijanto dan Ketua Komisi II, DPRD Kota Madiun, Ngedi Trisno Yhusanto. Mereka bersama-sama mendatangi Polres Madiun Kota untuk melaporkan upah gaji pekerja yang belum dibayarkan. (p-76)

Madiun, Kota Investigasi : Proses negosiasi antara para Mandor dan kuli bangunan dengan PT. AJP yang merupakan pemborong Gedung DPRD Kota Madiun mencapai babak final yaitu dengan minggatnya PT. AJP. Hal ini terungkap setelah PT. AJP selaku rekanan proyek pembangunan Gedung DPRD Kota Madiun tidak hadir dalam pertemuan yang digelar di Kantor Dinsosnaker Kota Madiun. Senin (22/2/16).
Ketidak hadiran PT. AJP ini tentu saja mengingkari kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya yaitu PT. AJP sanggup membayar kekurangan upah yang menjadi hak dari para Mandor dan kuli bangunan yang mengerjakan proyek pembangunan Gedung DPRD Kota Madiun yang senilia Rp. 29,3 miliar tersebut.
Mengetahui bahwa perwakilan PT. AJP tidak hadir, puluhan Mandor dan pekerja bangunan yang sudah menanti lama di Kantor Dinsosnaker Kota Madiun langsung meradang. “Saya kecewa karena uang pekerja yang sudah dua kali ini dijanjikan ternyata meleset,” ujar Nyono Sugiono, Perwakilan dari para Mandor dan pekerja proyek.
Lebih lanjut dikatakan, pihaknya akan melaporkan PT. AJP ini ke Mapolres Madiun Kota karena PT. AJP tidak bertanggungjawab padahal pertemuan ini sudah menjadi kesepakatan bersama sewaktu mengadakan pertemuan yang pertama. Saya hanya minta uang pekerja dan material dibayar," lanjut Nyono Sugiono.
Sementara itu, Kepala Dinsosnaker Kota Madiun, Suyoto HW mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha menghubungi pihak PT. AJP melalui telepon namun semua nomor tidak aktif. “Kalau seperti ini, Saya mendukung langkah dari para Mandor dan pekerja untuk menempuh jalur hokum,” tegasnya.
Setelah mediasi di Kantor Disnakersos tidak mendapatkan hasil, puluhan perwakilan mandor dan pekerja langsung mendatangi Polres Madiun Kota untuk melaporkan kasus ini. Langkah pekerja ini pun didukung oleh Sekwan DPRD Kota Madiun, Agus Sugijanto dan Ketua Komisi II, DPRD Kota Madiun, Ngedi Trisno Yhusanto. Mereka bersama-sama mendatangi Polres Madiun Kota untuk melaporkan upah gaji pekerja yang belum dibayarkan. (p-76)

Baca

Pejual Makanan Keliling Dicokok Satreskoba Polres Madiun Kota

Madiun Kota, Investigasi ; Pengintaian petugas Sat reskoba Polres Madiun Kota membuahkan hasil. Hendra, Seorang penjual makanan keliling dicokok petugas Satreskoba Polres Madiun Kota, di jalan Progo, Kecamatan Taman, saat akan melakukan transaksi Narkotika jenis sabu dengan pelangganya.
Untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, Hendra, yang pernah terlibat aksi pencurian dan penggelapan ini bakal dijerat Pasal 114 Ayat (1) Subsider, Pasal 112 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp. 8 Milyar.
Dijelaskan oleh Kasat Reskoba Polres Madiun Kota bahwa saat dilakukan penangkapan, Hendra, warga jalan Barito, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, baru saja keluar dari salah satu tempat hiburan malam didapati membawa serbuk sabu seberat 0,28 gram, yang disembunyikan didalam bungkus rokok. "Tersangka H, ini kita tangkap atas informasi dari masyarakat yang resah dengan aktifitas peredaran narkoba yang dilakukan tersangka. Setelah dilakukan penyelidikan dan pengintaian lalu dilakukan penangkapan terhadap tersangka," ujarnya.
Setelah dilakukan penangkapan kepada tersangka pemakai dan juga pengedar barang terlarang yang sudah empat kali keluar masuk penjara ini, anggota Satreskoba terus melakukan pengembangan adanya jaringan narkoba di wilayah hukum Polres Madiun Kota.

"Satreskoba terus melakukan pengembangan adanya jaringan narkoba di Madiun Kota. Karena tidak tertutup kemungkinan tersangka ini merupakan salah satu anggota jaringan di Madiun. Dan anggota juga masih melakukan pengejaran terhadap teman bisnis tersangka yang berhasil lolos saat dilakukan penangkapan,"terang AkP Sukono. (p-76)
Madiun Kota, Investigasi ; Pengintaian petugas Sat reskoba Polres Madiun Kota membuahkan hasil. Hendra, Seorang penjual makanan keliling dicokok petugas Satreskoba Polres Madiun Kota, di jalan Progo, Kecamatan Taman, saat akan melakukan transaksi Narkotika jenis sabu dengan pelangganya.
Untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, Hendra, yang pernah terlibat aksi pencurian dan penggelapan ini bakal dijerat Pasal 114 Ayat (1) Subsider, Pasal 112 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp. 8 Milyar.
Dijelaskan oleh Kasat Reskoba Polres Madiun Kota bahwa saat dilakukan penangkapan, Hendra, warga jalan Barito, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, baru saja keluar dari salah satu tempat hiburan malam didapati membawa serbuk sabu seberat 0,28 gram, yang disembunyikan didalam bungkus rokok. "Tersangka H, ini kita tangkap atas informasi dari masyarakat yang resah dengan aktifitas peredaran narkoba yang dilakukan tersangka. Setelah dilakukan penyelidikan dan pengintaian lalu dilakukan penangkapan terhadap tersangka," ujarnya.
Setelah dilakukan penangkapan kepada tersangka pemakai dan juga pengedar barang terlarang yang sudah empat kali keluar masuk penjara ini, anggota Satreskoba terus melakukan pengembangan adanya jaringan narkoba di wilayah hukum Polres Madiun Kota.

"Satreskoba terus melakukan pengembangan adanya jaringan narkoba di Madiun Kota. Karena tidak tertutup kemungkinan tersangka ini merupakan salah satu anggota jaringan di Madiun. Dan anggota juga masih melakukan pengejaran terhadap teman bisnis tersangka yang berhasil lolos saat dilakukan penangkapan,"terang AkP Sukono. (p-76)
Baca
 
Investigasi New Biro Madiun. Alamat Jl. Gemah Ripah No. 30 Dolopo Kabupaten Madiun. Telp. 081249410099
Support : PT. INSAN MANDIRI PERMATA
Copyright © 2014. Investigasi New Madiun
Template Edited by Investigasi Biro Madiun
Telp/Message : 081249410099 | 0856 0449 9100